fikiryazilari – Setelah sempat dibatalkan, misi robot penjelajah Bulan milik NASA, VIPER (Volatiles Investigating Polar Exploration Rover), kembali dilanjutkan. Keputusan ini menjadi angin segar bagi program eksplorasi luar angkasa Amerika Serikat, khususnya untuk pencarian sumber daya air di Kutub Selatan Bulan.
VIPER awalnya dijadwalkan meluncur pada 2024, namun tertunda karena berbagai kendala teknis dan logistik. Kini, proyek ini mendapatkan mitra baru: Blue Origin, perusahaan antariksa milik Jeff Bezos. Dalam kesepakatan baru, Blue Origin akan mengirimkan VIPER menggunakan wahana pendarat Blue Moon Mark 1 (MK1). Peluncuran dijadwalkan berlangsung pada tahun 2027.
Penugasan ini menjadi bagian dari program Commercial Lunar Payload Services (CLPS) milik NASA, yang bertujuan melibatkan sektor swasta dalam pengiriman muatan ke Bulan. Program ini mempercepat eksplorasi ilmiah sambil mengurangi biaya melalui kemitraan komersial.
“Rover kami akan menjelajahi lingkungan ekstrem di Kutub Selatan Bulan dan memberikan wawasan penting,” jelas Sean Duffy, pejabat NASA, dikutip dari Gizmodo, Jumat (3/10/2025). Ia menekankan pentingnya misi ini dalam mendukung masa depan keberadaan manusia di Bulan.
VIPER akan mencari es dan material volatiles lain yang tersembunyi di bawah permukaan Bulan. Data dari misi ini penting untuk mendukung kebutuhan air dan bahan bakar dalam misi jangka panjang, termasuk rencana koloni Bulan dan Mars.
Dengan kerja sama ini, NASA berharap VIPER dapat mengumpulkan informasi penting untuk menunjang program Artemis dan visi eksplorasi luar angkasa jangka panjang Amerika Serikat.
Baca Juga: “MotoGP Indonesia 2025 Hadirkan Juara Dunia Marc Marquez“
NASA VIPER Akan Telusuri Es Air di Kawasan Tergelap Kutub Selatan Bulan
VIPER, robot penjelajah NASA, disiapkan untuk menjalankan misi penting di wilayah kutub selatan Bulan. Tujuan utamanya adalah menemukan dan memetakan cadangan es air, komponen vital bagi keberlangsungan misi manusia di luar Bumi.
Misi ini merupakan bagian penting dari program Artemis, yang menargetkan kehadiran manusia secara berkelanjutan di Bulan. Dengan menjelajah wilayah yang selalu dalam bayangan, VIPER akan mencari air sebagai sumber daya untuk kehidupan dan bahan bakar masa depan.
VIPER memiliki desain sederhana namun tangguh: berbentuk kotak, empat roda, dan dilengkapi empat instrumen ilmiah. Salah satu fitur utamanya adalah lampu depan khusus yang memungkinkan eksplorasi kawah gelap yang tak pernah tersinari Matahari. Kawah inilah yang diperkirakan menyimpan es air paling stabil sejak miliaran tahun lalu.
Selama 100 hari misi, VIPER akan menganalisis tanah Bulan dan membuat peta distribusi es di bawah permukaannya. Temuan ini akan membantu para ilmuwan memahami asal-usul air Bulan dan memanfaatkan sumber daya lokal secara efisien.
Sebelumnya, VIPER direncanakan meluncur pada 2023 dengan pendarat Griffin milik Astrobotic, bagian dari kontrak CLPS senilai USD 322 juta. Namun proyek tertunda karena masalah pasokan dan teknis, yang mendorong NASA untuk membatalkan peluncuran pada Juli 2024.
Keputusan ini menuai kritik dari komunitas ilmiah, mengingat pentingnya misi ini. Sebagai solusi, NASA membuka peluang kemitraan baru, dan akhirnya menunjuk Blue Origin sebagai mitra peluncuran baru.
Dengan peluncuran ulang yang dijadwalkan pada 2027, VIPER menjadi simbol kegigihan ilmiah untuk mengungkap potensi Bulan sebagai tempat tinggal manusia masa depan.
Baca Juga: “Prabowo Tegaskan Kebersihan MBG dengan Arahan Detail“






Leave a Reply