fikiryazilari.net – Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia menghadirkan inovasi pengering singkong berbasis energi surya.
Inovasi ini ditujukan untuk menjawab persoalan pascapanen di wilayah pedesaan.
Petani dan pelaku UMKM selama ini menghadapi kendala cuaca saat proses pengeringan singkong.
Ketergantungan pada sinar matahari membuat proses produksi berjalan lambat dan tidak konsisten.
Masalah tersebut berdampak pada kualitas, kebersihan, dan nilai jual hasil panen singkong.
Melalui teknologi pengering bertenaga surya, mahasiswa UPI menawarkan solusi yang aplikatif.
Alat ini dirancang untuk bekerja lebih stabil dalam berbagai kondisi cuaca.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya peningkatan produktivitas sektor pertanian desa.
Mahasiswa berperan aktif sebagai agen perubahan melalui pendekatan teknologi tepat guna.
Baca juga: “Seni Cadas Purba 67.800 Tahun Ditemukan Peneliti BRIN di Muna”
Dukungan Akademik dan Peran Mahasiswa sebagai Agen Perubahan
Ketua pembimbing PM-BEM UPI, Selly Feranie, menilai inovasi ini memiliki nilai strategis.
Ia menyebut mahasiswa mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat melalui riset terapan.
Menurut Selly, kolaborasi lintas fakultas memperkuat kualitas inovasi yang dihasilkan.
“Teknologi ini menunjukkan peran mahasiswa dalam menghadirkan solusi yang relevan bagi masyarakat,” kata Selly.
Ia menekankan pentingnya keberlanjutan dalam setiap program pemberdayaan mahasiswa.
Dukungan institusi kampus menjadi faktor penting dalam pengembangan teknologi tersebut.
Selly menjelaskan alat ini tidak hanya mengandalkan sinar matahari langsung.
Perangkat dilengkapi sistem pemanas otomatis dan baterai penyimpan energi.
Fitur tersebut memungkinkan alat tetap beroperasi saat cuaca mendung atau hujan.
Mengatasi Keterbatasan Metode Penjemuran Konvensional
Metode penjemuran tradisional masih banyak digunakan oleh petani singkong.
Cara tersebut sangat bergantung pada kondisi cuaca harian.
Saat hujan, proses pengeringan sering terhenti dalam waktu lama.
“Kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas dan kebersihan produk,” ujar Selly.
Singkong yang terlalu lama basah rentan mengalami pembusukan.
Produk juga lebih mudah terkontaminasi debu dan kotoran lingkungan.
Pengering singkong tenaga surya dirancang untuk mengatasi masalah tersebut.
Alat ini mampu menjaga suhu pengeringan tetap stabil.
Proses pengeringan menjadi lebih cepat dan terkontrol.
Dampak Positif bagi Agrobisnis dan UMKM Desa
Dari sisi agrobisnis, teknologi ini memberikan banyak keuntungan.
Proses pascapanen menjadi lebih efisien dan terukur.
Risiko kehilangan hasil panen dapat ditekan secara signifikan.
Pengeringan yang konsisten membantu menjaga mutu bahan baku.
Kualitas singkong kering menjadi lebih seragam.
Hal ini penting bagi UMKM yang mengolah singkong menjadi produk lanjutan.
Produk turunan singkong memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Keripik, tepung singkong, dan olahan lainnya membutuhkan bahan baku berkualitas.
Teknologi pengering mendukung peningkatan daya saing UMKM desa.
Implementasi Program di Desa Sukamelang Subang
Inovasi ini dikembangkan oleh mahasiswa BEM UPI.
Program tersebut bernama “With UPI, Cassava is Gold.”
Kegiatan dilaksanakan di Desa Sukamelang, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Desa Sukamelang dikenal sebagai salah satu sentra produksi singkong.
Sebagian besar warga menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian.
UMKM lokal juga berkembang berbasis olahan singkong.
Mahasiswa melakukan pendekatan partisipatif bersama masyarakat desa.
Petani dan pelaku UMKM dilibatkan dalam proses pengenalan alat.
Pelatihan penggunaan alat menjadi bagian dari program pemberdayaan.
Pengalaman Petani dan Harapan Ke Depan
Ketua Kelompok Tani Desa Sukamelang, Usep, merasakan manfaat langsung inovasi tersebut.
Sebelumnya, proses pengeringan sering terganggu saat musim hujan.
Kualitas hasil panen menjadi tidak stabil.
“Kini pengeringan bisa berlangsung lebih konsisten dan bersih,” kata Usep.
Ia menilai singkong kering menjadi lebih layak diolah.
Produk juga lebih mudah dipasarkan oleh UMKM desa.
Ke depan, teknologi ini diharapkan dapat direplikasi di daerah lain.
Potensi singkong sebagai komoditas unggulan nasional masih sangat besar.
Inovasi mahasiswa menjadi bagian penting dari penguatan ekonomi desa.
Dengan dukungan riset dan pendampingan berkelanjutan, teknologi ini dapat dikembangkan lebih lanjut.
Mahasiswa UPI menunjukkan bahwa inovasi sederhana mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Baca juga: “PLN Hadirkan Listrik Surya Dukung Pendidikan Pelosok Muratara”






Leave a Reply