fikiryazilari – Overthinking sering muncul ketika seseorang menilai sebuah masalah secara berlebihan. Kondisi ini dapat mengganggu fokus dan mempengaruhi kesehatan mental. Banyak orang tidak menyadari bahwa pola pikir tersebut muncul dari tekanan internal yang sulit dikendalikan.
Psikiater Eva Suryani dari RS EMC Alam Sutera menjelaskan bahwa overthinking memiliki beberapa tipe. Ada individu yang terjebak pada penyesalan masa lalu atau kekhawatiran masa depan. Sebagian lain terus mengkritik diri sendiri atau berusaha menyenangkan semua orang. Tipe lainnya adalah overplanner yang menuntut kesempurnaan pada setiap rencana hingga sulit memulai.
Eva menegaskan bahwa standar sempurna sebenarnya tidak nyata. Ia menyebut bahwa banyak hal dalam hidup berada di luar kendali manusia. “Perfect itu ilusi. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan yang terbaik,” ujarnya. Ia mengingatkan agar seseorang tidak menuntut kesempurnaan sebelum mencoba hal baru.
Data dari berbagai studi menunjukkan bahwa overthinking dapat meningkatkan risiko stres kronis. Kondisi ini juga dapat menurunkan kualitas tidur dan produktivitas. Pola tersebut sering muncul pada individu dengan beban kerja tinggi atau lingkungan yang kompetitif.
Eva menyarankan tiga langkah sederhana untuk menenangkan pikiran. Pertama, fokus pada hal yang dapat dikendalikan. Kedua, batasi waktu berpikir untuk mencegah pikiran berulang. Ketiga, latih penerimaan terhadap hasil yang tidak selalu ideal. Strategi ini membantu seseorang memahami batas kemampuan diri.
Mengelola overthinking membutuhkan kesadaran dan latihan yang konsisten. Langkah kecil dapat memberi perubahan besar pada keseimbangan mental. Dengan memahami pemicu dan memilih respons yang tepat, individu dapat hidup lebih tenang dan produktif.
Baca Juga : “Prabowo Tegaskan MBG Harus Halal di Semua Dapur“
Tiga Cara Praktis Mengurangi Overthinking Menurut Psikiater
Overthinking sering membuat seseorang sulit fokus dan kehilangan ketenangan. Pola ini muncul tanpa disadari dan dapat mengganggu aktivitas harian. Banyak ahli menilai bahwa langkah sederhana dapat membantu mengendalikan pikiran berlebih.
Psikiater Eva Suryani menjelaskan bahwa mindfulness adalah pendekatan efektif untuk menenangkan pikiran. Mindfulness tidak selalu membutuhkan meditasi panjang. Individu cukup menyadari apa yang terjadi dalam diri dan lingkungan. Eva menekankan pentingnya menerima proses belajar. Setiap keterampilan membutuhkan waktu dan latihan.
Strategi kedua adalah menuliskan kekhawatiran secara terstruktur. Cara ini membantu seseorang melihat apakah kekhawatiran tersebut terbukti. “Coba ditulis apa saja yang dikhawatirkan. Lalu cek mana yang tidak terbukti sama sekali,” ujar Eva. Teknik ini dapat mengurangi pikiran berulang dan memberi jarak emosional.
Langkah ketiga adalah fokus pada momen saat ini. Eva mengingatkan bahwa mengulang masa lalu atau mencemaskan masa depan hanya menguras energi. “Kalau terlalu memikirkan masa depan, masa sekarang jadinya lewat,” katanya. Ia menegaskan bahwa waktu saat ini tidak dapat diulang kembali. Kesadaran terhadap momen sekarang membantu memperkuat kehadiran mental.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa latihan mindfulness dan journaling mampu menurunkan tingkat stres. Individu yang fokus pada masa kini juga memiliki kualitas tidur lebih baik. Kebiasaan ini memberi manfaat besar bagi keseimbangan mental.
Mengurangi overthinking adalah proses bertahap yang membutuhkan konsistensi. Dengan menerapkan tiga langkah di atas, seseorang dapat membangun ketenangan yang lebih stabil. Strategi ini juga membantu memperkuat ketahanan mental di masa depan.
Baca Juga : “Ancaman Bom Paksa United Airlines Alihkan Penerbangan“






Leave a Reply