fikiryazilari – Kesejahteraan lanjut usia tidak hanya bergantung pada kesehatan fisik mereka. Lansia membutuhkan peran sosial dan lingkungan yang mendukung.
Indonesia menghadapi peningkatan populasi lansia yang semakin besar setiap tahun. Kondisi ini menuntut strategi pembangunan yang ramah usia. Pemerintah menekankan pentingnya pemberdayaan lansia dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Lansia bukan hanya penerima bantuan, tetapi aset yang memiliki pengalaman berharga. Mereka dapat berkontribusi dalam keluarga, komunitas, dan pembangunan nasional.
Plt. Kepala Pusat Kependudukan BRIN Ali Yansyah Abdurrahim menyampaikan pesan itu dalam Webinar Hari Lansia Internasional 2025 di Jakarta. Ia menegaskan pentingnya menghilangkan stigma negatif terhadap lansia. “Lansia harus dipandang sebagai aset sosial yang berkontribusi dalam pembangunan, bukan beban,” kata Ali. Ia juga mendorong literasi digital agar lansia tetap terhubung dengan masyarakat modern. Organisasi Kesehatan Dunia menekankan pentingnya dukungan sosial yang kuat. Dukungan keluarga dan komunitas meningkatkan kualitas hidup lansia. Keterlibatan dalam kegiatan publik juga memperkuat hubungan lintas generasi.
Indonesia sudah mulai menerapkan konsep lansia aktif dan sehat di berbagai daerah. Program komunitas membantu mereka berbagi pengetahuan dan menjaga kebugaran. Lansia berperan sebagai penjaga nilai budaya dan sumber kebijaksanaan. Kebijakan lintas sektor diperlukan agar hak-hak mereka terlindungi. Pembangunan inklusif membutuhkan kolaborasi pemerintah, keluarga, dan organisasi masyarakat.
Ke depan, Indonesia harus memperkuat akses layanan kesehatan dan teknologi untuk lansia. Lingkungan yang ramah usia akan meningkatkan partisipasi mereka dalam kehidupan sosial. Upaya ini mendukung terciptanya bangsa yang berkeadilan dan bermartabat. Dengan strategi tepat, lansia dapat menjadi motor penggerak solidaritas antar generasi.
Baca Juga: “OpenAI Luncurkan Fitur diSora Video AI dengan Hewan Peliharaan“
Tantangan Populasi Menua Perlu Dilihat sebagai Peluang Pembangunan
Indonesia memasuki fase populasi menua yang signifikan dalam satu dekade mendatang. Penurunan angka kelahiran juga menjadi perhatian para ahli demografi.
Pakar demografi Universitas Indonesia Aris Ananta menjelaskan bahwa isu tersebut tidak harus memicu kekhawatiran berlebihan. Ia menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk. Inovasi, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia berperan penting dalam produktivitas nasional. “Pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada jumlah penduduk, tetapi juga pada inovasi, human capital, dan teknologi,” ujar Aris. Ia meminta agar paradigma pembangunan berubah ke arah yang lebih optimistis dan berkelanjutan. Populasi menua harus dipandang sebagai potensi yang dapat memperkuat ekonomi serta stabilitas sosial. Lansia memiliki pengalaman dan kapasitas yang berguna bagi masyarakat.
Dalam sesi yang sama, Asisten Profesor Senior Universitas Brunei Darussalam Evi Nurvidya Arifin mengingatkan pentingnya inklusi bagi penyandang disabilitas. Ia menegaskan bahwa disabilitas bukan hanya kondisi medis atau fisik. Hambatan sosial dan lingkungan sering menghalangi partisipasi penuh mereka. Perspektif ini sejalan dengan pendekatan sosial yang dianut banyak negara maju dalam kebijakan kependudukan. Evi menekankan perlunya akses infrastruktur yang ramah disabilitas untuk mengurangi kesenjangan. “Kebijakan inklusif penting agar setiap warga dapat berpartisipasi seutuhnya,” tegasnya.
Para ahli sepakat bahwa kebijakan masa depan harus menekankan kesetaraan akses layanan bagi seluruh penduduk. Pemerintah perlu memperkuat sistem pendukung komunitas yang dapat menjaga kualitas hidup lansia dan penyandang disabilitas. Dengan strategi tepat, isu populasi menua dapat berubah menjadi peluang. Indonesia berpotensi menjadi negara yang inklusif dan siap menghadapi perubahan demografi secara berkelanjutan.
Baca Juga: “Melodi Cokelat Manis: Inovasi Musik yang Buat Rasa Lebih Nikmat“






Leave a Reply