fikiryazilari -Menjaga kesehatan jantung sejak dini sangat penting untuk menurunkan risiko stroke. Rajin berolahraga membantu memperkuat fungsi jantung dan melancarkan aliran darah. Risiko stroke meningkat hingga tujuh kali lipat bagi pasien dengan jantung berdetak tidak teratur.
Dr. Pricilla Yani Gunawan, Sp.N, Subspes.E.N.K (K), dari Siloam Hospital Lippo Village, menjelaskan bahwa gangguan irama jantung termasuk faktor risiko serius pencetus stroke. “Faktor risiko stroke banyak, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, dan diabetes. Salah satunya adalah aritmia, yang bisa meningkatkan risiko hingga 7 kali lipat,” ujarnya.
Screening rutin jantung penting dilakukan, tidak hanya sebatas pemeriksaan gula darah, kolesterol, dan tekanan darah. USG pembuluh darah menjadi langkah lanjutan untuk mendeteksi gangguan denyut yang bisa memicu stroke. Pemeriksaan ini mencakup pembuluh darah leher dan kepala, sehingga memudahkan deteksi dini.
Gangguan irama jantung tidak hanya memengaruhi detak jantung, tetapi juga berdampak pada ritme seluruh tubuh. Dengan deteksi dini, pasien bisa menjalani pencegahan stroke sebelum gejala muncul. Data dari American Heart Association menunjukkan bahwa pasien dengan atrial fibrilasi memiliki risiko stroke hingga lima sampai tujuh kali lebih tinggi dibanding populasi umum.
Pencegahan meliputi pengendalian tekanan darah, kolesterol, diabetes, dan pola hidup sehat. “Deteksi dini aritmia dapat menyelamatkan pasien dari risiko stroke yang serius,” tambah Dr. Pricilla. Dengan kesadaran dan medical check-up rutin, gangguan jantung bisa dikontrol lebih efektif, mengurangi potensi komplikasi jangka panjang.
Baca Juga: “PHK Ban Michelin, Kemenperin dan Serikat Pekerja Tanggapi“
Jantung Sehat dengan Olahraga, Turunkan Risiko Stroke Sejak Usia Muda
Rajin berolahraga menjadi salah satu cara paling efektif untuk menekan risiko stroke pada usia muda. Aktivitas fisik yang teratur dapat menjaga kesehatan pembuluh darah, menstabilkan tekanan darah, serta mengontrol kadar kolesterol dan gula darah.
Menurut dr. Pricilla Yani Gunawan, Sp.N, Subspes.E.N.K (K), dari Siloam Hospital Lippo Village, faktor usia memang tidak bisa dihindari. Namun, faktor lain seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, dan diabetes bisa dikendalikan melalui pola hidup sehat. “Kalau risiko usia itu kan tidak bisa dihindari, tapi faktor risiko lain bisa ditekan dengan olahraga, pola makan, dan jam makan teratur,” ujarnya.
Dr. Pricilla juga menekankan pentingnya menjaga gaya hidup aktif. Banyak bergerak dapat membantu melancarkan sirkulasi darah dan menurunkan tekanan pada jantung. Kini, stroke tidak hanya menyerang orang lanjut usia, tetapi juga kelompok dewasa muda berusia 40 hingga 45 tahun. Fenomena ini terjadi akibat gaya hidup sedentari dan kurang aktivitas fisik.
Pemeriksaan kesehatan rutin juga sangat disarankan. “Screening awal itu penting. Jika tidak ada faktor risiko, lakukan medical check-up setiap satu hingga tiga tahun. Bila ada risiko, ulangi tiap tahun atau lebih cepat bila muncul gejala,” tambahnya.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, prevalensi stroke di Indonesia meningkat pada usia produktif dalam satu dekade terakhir. Dengan olahraga teratur, pola makan seimbang, dan pemeriksaan kesehatan berkala, risiko stroke bisa ditekan secara signifikan. Kesadaran masyarakat untuk menjaga gaya hidup aktif menjadi kunci pencegahan di masa depan.
Baca Juga: “Suku Bunga AS Turun Lagi, The Fed Beri Sinyal Desember 2025“






Leave a Reply