fikiryazilari – Ancaman Baru Flu bukan penyakit ringan dan tetap menjadi ancaman global. Penyakit ini pernah menimbulkan pandemi besar dan kini kembali menunjukkan potensi bahayanya.
Sejarah mencatat beberapa pandemi flu mematikan. Flu Spanyol pada 1918–1920 menewaskan sekitar 20 juta orang di seluruh dunia. Flu Asia pada 1957–1958 dan Flu Hongkong pada 1968–1969 masing-masing menyebabkan lebih dari 1 juta kematian. Menurut CDC Amerika Serikat, musim flu 2024–2025 bahkan diperkirakan dapat menimbulkan 27 ribu hingga 130 ribu kematian. Laporan WHO juga menyebut tiga hingga lima juta kasus berat dan sekitar 650 ribu kematian akibat gangguan pernapasan setiap tahun.
Dokter anak dan pakar respirologi dari IDAI, Dr dr. Nastiti Kaswandani, SpA(K), menegaskan flu bisa memicu krisis kesehatan. Ia menjelaskan bahwa pandemi influenza dapat membebani fasilitas kesehatan dan meningkatkan angka kematian secara drastis. Nastiti menilai masih banyak masyarakat yang keliru membedakan flu dengan common cold. Ia menegaskan bahwa influenza dapat mematikan, terutama saat menyebar luas dan tidak tertangani dengan baik.
Di Indonesia, belum ada data nasional yang lengkap. Namun, beberapa rumah sakit mulai melaporkan kenaikan kasus influenza. Kondisi ini menunjukkan perlunya kewaspadaan dini dan perbaikan sistem surveilans.
Ke depan, mitigasi perlu diperkuat melalui vaksinasi, edukasi publik, dan kesiapan layanan kesehatan. Flu dapat dicegah, tetapi sikap abai dapat memicu risiko besar, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit penyerta.
Baca Juga : “Pembalap Muda Indonesia Siap Tampil di Formula 4“
Ancaman Baru Flu: Anak dan Lansia Jadi Kelompok Paling Rentan Terhadap Flu
Flu masih menjadi masalah kesehatan global yang sering diremehkan. Setiap tahun, jutaan orang terinfeksi dan sebagian mengalami komplikasi berat.
Data WHO menunjukkan 3–5 juta kasus influenza berat terjadi setiap tahun. Dari jumlah itu, sekitar 290 ribu hingga 650 ribu orang meninggal akibat komplikasi pernapasan. Angka ini mencerminkan beban besar yang perlu ditangani dengan serius oleh sistem kesehatan di berbagai negara.
Kelompok anak-anak memiliki tingkat serangan lebih tinggi dibanding orang dewasa. Tingkat infeksi pada anak bisa mencapai 20–30 persen, sementara pada orang dewasa hanya 5–10 persen. Dokter respirologi anak dari IDAI, Dr dr. Nastiti Kaswandani, SpA(K), menegaskan bahwa dampak flu pada anak bisa lebih berat. Ia menjelaskan bahwa kelompok usia muda sering menjadi pintu penyebaran di rumah dan sekolah.
Nastiti juga mengingatkan bahwa angka kematian akibat flu sering tidak terlaporkan. Banyak pasien meninggal karena gangguan pernapasan tanpa pernah didiagnosis influenza. Ia menggambarkan kondisi ini sebagai fenomena gunung es, di mana kasus yang tercatat hanya sebagian kecil dari kenyataan.
Perlindungan sejak dini perlu diperkuat melalui edukasi, vaksinasi, dan pengawasan gejala. Lingkungan sekolah dan keluarga menjadi kunci dalam mencegah penyebaran. Ke depan, peningkatan deteksi dan pencatatan kasus dapat membantu pengambilan kebijakan yang lebih efektif. Flu bisa dikendalikan, tetapi hanya jika masyarakat menyadari risikonya dan mengambil tindakan pencegahan.
Baca Juga : “Misi Penyelamatan Badak Kalimantan Terakhir Dimulai“






Leave a Reply