fikiryazilari -Penembakan Massal : Sekelompok pria bersenjata menyerbu hostel di Pretoria, Afrika Selatan, pada Sabtu (6/12/2025), menewaskan 12 orang, termasuk anak berusia tiga tahun. Insiden terjadi di lokasi yang diduga menjual alkohol secara ilegal.
Tiga pria bersenjata memasuki shebeen ilegal sekitar pukul 4.30 waktu setempat dan menembak ke arah sekelompok pria yang sedang minum. Shebeen adalah istilah lokal untuk bar atau kedai minuman informal. Polisi baru menerima laporan sekitar pukul 6 pagi dan langsung menuju lokasi.
Juru bicara polisi, Athlenda Mathe, mengatakan, “Total 25 orang telah ditembak. Sepuluh tewas di tempat, dua meninggal di rumah sakit, dan satu lagi succumbed pada sore hari.” Saat ini, motif serangan belum diketahui, dan pelaku masih diburu pihak berwenang.
Kasus ini menjadi bagian dari rangkaian penembakan massal yang semakin sering terjadi di Afrika Selatan, sebuah negara berpenduduk 63 juta dengan salah satu tingkat pembunuhan tertinggi di dunia. Polisi menyoroti tantangan besar terkait tempat penjualan minuman keras ilegal, yang kerap menjadi lokasi insiden serupa.
“Kami menghadapi masalah serius dengan shebeen ilegal. Banyak orang tidak bersalah terjebak dalam baku tembak,” tambah Mathe. Aparat keamanan berencana meningkatkan patroli dan pengawasan terhadap lokasi-lokasi semacam itu di Pretoria dan sekitarnya.
Insiden ini menambah kekhawatiran publik terhadap keamanan di kawasan perkotaan, memicu tekanan pada pemerintah untuk menindak lokasi minuman keras ilegal dan memperkuat pengawasan kepolisian. Analisis kriminal menunjukkan, pengurangan akses terhadap alkohol ilegal dapat membantu menekan kekerasan bersenjata di wilayah urban.
Baca Juga : “Badan Gizi Nasional Perluas Program MBG ke Tenaga Pendidikan“
Krisis Kekerasan Bersenjata di Afrika Selatan: Penembakan Massal Terus Meningkat
Afrika Selatan, negara industri terbesar di benua Afrika, menghadapi krisis kejahatan bersenjata yang kerap memicu kematian massal. Tingkat pembunuhan di negara ini termasuk yang tertinggi di dunia, sekitar 63 orang tewas setiap hari antara April hingga September, menurut data kepolisian.
Penembakan massal sering terkait dengan kekerasan geng, pertengkaran pribadi, dan konsumsi alkohol di lokasi-lokasi ilegal. Meskipun kepemilikan senjata berlisensi relatif ketat, peredaran senjata ilegal jauh lebih luas. Sebagian besar korban penembakan berasal dari pertengkaran atau perampokan, kata pihak kepolisian.
Beberapa insiden baru-baru ini menggambarkan situasi serius di negara ini. Pada Oktober, dua remaja tewas dan lima lainnya terluka dalam penembakan geng di Johannesburg. Pada Mei, delapan pelanggan ditembak di sebuah kedai minuman di Durban. Tahun lalu, 18 anggota keluarga tewas ditembak di rumah pedesaan di Provinsi Eastern Cape.
Ahli keamanan menyatakan bahwa kombinasi kemiskinan, akses senjata ilegal, dan kekerasan geng membuat Afrika Selatan sangat rentan terhadap insiden massal. “Peredaran senjata ilegal di komunitas urban memperburuk risiko bagi warga sipil,” kata seorang analis kriminal seperti dilansir media lokal.
Pemerintah dan kepolisian kini berupaya meningkatkan pengawasan, menutup lokasi penjualan minuman keras ilegal, dan menindak geng bersenjata. Strategi ini diharapkan dapat mengurangi frekuensi penembakan massal dan melindungi masyarakat sipil. Namun, tantangan tetap besar, karena jaringan kriminal dan korupsi yang mengakar membuat penegakan hukum lebih sulit.
Tren kekerasan bersenjata di Afrika Selatan menjadi perhatian global, menunjukkan perlunya kebijakan keamanan lebih tegas dan pengurangan akses senjata ilegal demi menurunkan angka kematian.
Baca Juga : “Netflix resmi mengakuisisi Warner Bros Rp 1.201 Triliun“






Leave a Reply