fikiryazilari – Usia seabad tidak menghentikan langkah maestro sushi Jepang, Jiro Ono, untuk terus berkarya. Di usia 100 tahun, peraih tiga bintang Michelin ini tetap menunjukkan dedikasi tinggi terhadap dunia kuliner yang membesarkan namanya.
Dalam perayaan Hari Penghormatan untuk Lansia di Jepang pada September lalu, Ono menegaskan bahwa dirinya belum berencana pensiun. “Saya masih ingin terus bekerja sekitar lima tahun lagi,” ujarnya dalam wawancara dengan ABC News, dikutip Minggu, 2 November 2025.
Sebagai pendiri Sukiyabashi Jiro, restoran kecil di kawasan elit Ginza, Tokyo, Ono berhasil mengubah tempat berkapasitas sepuluh kursi itu menjadi ikon kuliner dunia. Restoran tersebut pernah mempertahankan tiga bintang Michelin selama lebih dari satu dekade—prestasi luar biasa yang jarang dicapai restoran sushi mana pun. Kini, putranya Yoshikazu Ono melanjutkan tradisi keluarga sebagai kepala koki sekaligus penerus visi sang ayah.
Ketenaran Jiro Ono semakin mendunia setelah mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama menikmati sushi buatannya pada tahun 2014 bersama Perdana Menteri Jepang saat itu, Shinzo Abe. Yoshikazu masih mengenang momen ketika Obama tersenyum puas usai menyantap sushi tuna hasil tangan ayahnya.
Hingga kini, Jiro Ono masih menganggap maguro (tuna), kohada (gizzard shad), dan anago (belut laut) sebagai tiga sushi favoritnya. Meski usia bertambah, semangatnya tetap menjadi inspirasi bagi generasi koki muda di seluruh dunia. Dengan komitmen dan ketekunan yang tak lekang waktu, Ono membuktikan bahwa cinta pada pekerjaan sejati tidak mengenal usia.
Baca Juga: “Istri Percaya Peramal Nyaris Hancurkan Rumah Tangga di China“
Rahasia Panjang Umur Jiro Ono: Bekerja Adalah Obat Terbaik
Di usia 100 tahun, maestro sushi Jiro Ono tetap menjadi simbol ketekunan dan semangat hidup di Jepang. Saat Gubernur Tokyo Yuriko Koike menanyakan rahasia kesehatannya, Ono menjawab singkat, “Bekerja.” Baginya, bekerja adalah cara terbaik untuk menjaga tubuh dan pikiran tetap aktif.
Meski tak lagi berada di dapur setiap hari, Ono berusaha tetap bergerak dan produktif selama tubuhnya mengizinkan. Di tengah populasi Jepang yang menua—dengan hampir seratus ribu penduduk berusia di atas seratus tahun—Ono menonjol bukan hanya karena umurnya, tetapi karena dedikasinya yang luar biasa terhadap profesinya.
Lahir di Hamamatsu pada 1925, Ono tumbuh dalam kesederhanaan. Ia menghindari alkohol, rutin berjalan kaki, dan menjaga pola makan. Sejak usia tujuh tahun, ia sudah magang di penginapan, lalu merantau ke Tokyo pada usia 25 untuk menjadi koki sushi. Dua dekade kemudian, pada 1965, ia membuka Sukiyabashi Jiro, restoran yang kini mendunia.
Dalam dokumenter Jiro Dreams of Sushi (2012), Ono pernah berkata, “Saya belum mencapai kesempurnaan. Saya akan terus mendaki, tapi tak ada yang tahu di mana puncaknya.” Kalimat itu mencerminkan filosofi hidupnya: selalu berusaha memperbaiki diri setiap hari.
Sutradara dokumenter, David Gelb, menggambarkan Ono sebagai sosok karismatik namun rendah hati. Ia mengenang bagaimana Ono khawatir kru film akan bosan saat merekam proses pemijatan gurita selama satu jam.
Kini, Ono menjadi representasi nilai ikigai—mencari makna hidup melalui pekerjaan yang dicintai. Saat mendengar kabar pria tertua di Jepang meninggal di usia 113 tahun, Ono tersenyum dan berkata, “Mungkin saya bisa sampai 114 tahun.” Sebuah cerminan semangat yang tak pernah padam.
Baca Juga: “ChatGPT Picu Kekhawatiran, OpenAI Ungkap Risiko Psikosis“






Leave a Reply