fikiryazilari – Hari Nacho Sedunia diperingati setiap 21 Oktober untuk merayakan camilan khas Meksiko yang kini mendunia. Momen ini menjadi kesempatan bagi pecinta kuliner untuk mengenal asal-usul nacho, sekaligus menikmati inovasi resepnya di berbagai negara.
Awalnya, nacho tercipta pada tahun 1943 oleh Ignacio “Nacho” Anaya, seorang pelayan di restoran Victory Club, Piedras Negras, Meksiko. Saat itu, sekelompok tamu asal Amerika datang setelah dapur tutup. Dengan bahan sederhana yang tersisa—tortilla, keju, dan cabai jalapeño—Anaya berimprovisasi. Hasil kreasinya ternyata disukai banyak orang dan dikenal luas sebagai “nacho.”
Menurut Days of the Year, perayaan ini bukan hanya tentang menikmati kelezatan nacho. Lebih dari itu, Hari Nacho Sedunia juga mengingatkan kita akan kreativitas dan semangat inovasi di balik lahirnya hidangan ini. Kini, berbagai negara menambahkan sentuhan lokal, seperti topping daging, ayam, hingga versi vegetarian.
Selain itu, data dari Statista menunjukkan bahwa popularitas nacho terus meningkat di seluruh dunia. Tren makanan Meksiko kini juga berkembang di Indonesia. Banyak restoran menghadirkan nacho dengan cita rasa lokal, seperti sambal atau keju pedas khas Nusantara.
Pada akhirnya, Hari Nacho Sedunia menjadi simbol bahwa kuliner dapat menyatukan budaya dan selera. Melalui kreativitas serta inovasi, camilan sederhana ini berhasil menembus batas geografis dan menjadi favorit banyak orang di berbagai negara.
Baca Juga: “Protes Perang Vietnam: Ribuan Warga AS Tuntut Perdamaian“
Asal-Usul Nacho dan Perayaan Hari Nacho Sedunia
Kisah lahirnya nacho berawal dari kreativitas seorang koki bernama Ignacio “Nacho” Anaya di Meksiko utara. Saat bekerja di restoran dekat perbatasan pada 1943, ia menghadapi situasi tak biasa. Beberapa tentara Amerika datang ketika bahan makanan hampir habis.
Untuk menyiasatinya, Anaya memotong tortilla jagung menjadi potongan kecil, lalu menggorengnya hingga renyah. Setelah itu, ia menambahkan keju parut dan jalapeño acar di atasnya. Hasil improvisasi tersebut disukai para tamu dan kemudian dikenal dengan nama “nacho,” diambil dari julukan sang koki.
Seiring berjalannya waktu, nacho semakin populer di Meksiko dan Amerika Serikat. Pada 1970-an, makanan ini mulai dikenal luas sebagai bagian dari budaya pop kuliner. Versi cepat saji muncul di stadion olahraga, pameran negara bagian, hingga bioskop, lengkap dengan keju leleh hangat.
Popularitasnya melonjak setelah penyiar olahraga Howard Cosell menyebut kata “nacho” secara langsung dalam siaran pertandingan Dallas Cowboys tahun 1978. Sejak saat itu, nacho menjelma menjadi camilan universal yang mudah ditemukan di berbagai tempat, mulai dari toko serba ada hingga kantin sekolah.
Menurut Smithsonian Magazine, keberhasilan nacho menunjukkan bagaimana kreativitas sederhana dapat menciptakan tren global. Kini, setiap 21 Oktober diperingati sebagai Hari Nacho Sedunia untuk mengenang penemunya dan merayakan kelezatan camilan ini.
Lebih dari sekadar makanan ringan, nacho melambangkan ide brilian yang lahir dari keterbatasan. Melalui inovasi tanpa batas, camilan ini terus berevolusi dan menjadi simbol kebersamaan di meja makan banyak orang di seluruh dunia.
Baca Juga: “Menkeu Purbaya Tambah Dana LPDP Sesuai Arahan Prabowo“






Leave a Reply