fikiryazilari – Bos Sindikat Myanmar, Pengadilan Menengah Rakyat Shenzhen di Provinsi Guangdong, China, menjatuhkan hukuman mati kepada Bai Suocheng, bos sindikat kejahatan asal Myanmar, pada Selasa (5/11/2025). Hukuman tersebut dijatuhkan atas perannya dalam operasi kejahatan lintas negara yang menyebabkan enam warga China tewas.
Dalam laporan Xinhua, Bai terbukti memimpin jaringan kriminal bersenjata yang menjalankan penipuan daring, perjudian ilegal, dan penyelundupan manusia. Pengadilan juga menghukum mati anaknya, Bai Yingcang, serta tiga anggota dekat kelompok tersebut. Dari 16 terdakwa lainnya, dua dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan dua tahun, lima menerima hukuman penjara seumur hidup, dan sembilan lainnya diganjar penjara hingga 20 tahun serta denda berat.
Bai diketahui membangun 41 kompleks di wilayah kendalinya yang dijaga pasukan bersenjata. Kompleks itu digunakan untuk melindungi pemodal dan mengelola operasi ilegal berskala besar. Sebagai imbalan atas investasi, para pemodal mendapat perlindungan dari kelompok Bai. Aktivitas mereka mencakup penipuan daring, pembunuhan, pemerasan, penganiayaan, serta prostitusi paksa.
Menurut pihak berwenang China, kasus ini menjadi bagian dari upaya Beijing menindak keras sindikat kriminal lintas batas yang beroperasi dari wilayah perbatasan Myanmar. Pemerintah China menegaskan komitmennya memberantas kejahatan siber dan perdagangan manusia yang merugikan warganya di luar negeri.
Hukuman mati terhadap Bai Suocheng menandai sikap tegas China terhadap kejahatan terorganisir yang merenggut nyawa warga sipil. Langkah ini diharapkan menjadi peringatan bagi jaringan kriminal lainnya yang masih beroperasi di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: “Chrome Perketat Keamanan, Blokir Situs Tanpa HTTPS 2026“
China Hukum Mati Bos Sindikat Kokang, Bongkar Kejahatan Rp90 Triliun
Pengadilan China menjatuhkan hukuman mati kepada Bai Suocheng, pemimpin sindikat Myanmar asal Kokang, atas keterlibatannya dalam kejahatan lintas negara. Dalam laporan Xinhua, operasi yang dipimpin Bai melibatkan dana lebih dari 29 miliar yuan atau sekitar Rp90 triliun dari praktik penipuan dan perjudian daring.
Selain itu, kelompok Bai terbukti berkolusi dalam produksi dan perdagangan sekitar 11 ton metamfetamin. Narkotika tersebut termasuk jenis paling berbahaya yang diedarkan ke berbagai negara di Asia Tenggara. Kasus keluarga Bai mulai disidangkan pada September 2025, setelah jaksa resmi menuntut mereka dua bulan sebelumnya.
Hukuman terhadap Bai terjadi di tengah gelombang penindakan besar-besaran China terhadap geng kriminal di wilayah Kokang, Myanmar utara. Dua minggu sebelumnya, media pemerintah menayangkan pengakuan Wei Huairen—pemimpin geng keluarga Wei—yang juga dikenal sebagai Wai San. Wei dan kelompoknya dituduh melakukan pembunuhan, penculikan, penipuan, serta perdagangan narkoba yang menewaskan sedikitnya delapan warga Tiongkok.
Pada September, pengadilan di Provinsi Zhejiang turut menjatuhkan hukuman mati kepada 11 anggota keluarga Ming, sindikat besar lainnya di Kokang. Mereka dinyatakan bersalah atas kejahatan penipuan dan pembunuhan berencana.
Menurut Kementerian Keamanan Publik Tiongkok, operasi ini menjadi bagian dari kerja sama erat antara China dan Myanmar untuk memberantas kejahatan lintas batas. Dalam dua tahun terakhir, Beijing memperkuat penegakan hukum terhadap penipuan daring yang menjebak warga Tiongkok bekerja di wilayah kekuasaan geng Kokang. Pemerintah China berkomitmen menumpas jaringan kriminal ini demi melindungi keselamatan dan reputasi negara di tingkat internasional.
Baca Juga: “Pengusaha Tekstil: Temui Purbaya, Pastikan Tak Ada PHK“






Leave a Reply